Gondongan dan COVID-19 Bisa Picu Sperma Kosong alias Azoospermia

1 month ago 24
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit infeksi seperti gondongan dan COVID-19 bisa memicu sperma kosong atau dalam bahasa medis disebut azoospermia. Azoospermia adalah suatu kondisi medis serius yang menjadi perhatian dalam isu infertilitas (ketidaksuburan) pria. Kondisi ini berarti tidak ditemukannya satu pun sperma pada air mani pria.

Lantas, bagaimana kaitan antara azoospermia dengan gondongan dan COVID-19?

“Jadi gini, gondongan itu adalah infeksi pada kelenjar liur, virusnya mumps. Virus mumps ini ciri khasnya adalah gampang sekali menyebar ke testis atau buah zakar. Jadi selain di kelenjar air liur, dia suka sekali di buah zakar,” kata dokter spesialis andrologi Christian Christoper Sunnu dari Eka Hospital Grand Family Pantai Indah Kapuk (PIK) kepada Health Liputan6.com dalam temu media di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Dokter yang akrab disapa Sunnu menambahkan, gondongan pada usia pubertas yakni 16 atau 17 tahun bisa sangat berbahaya. Virus mumps dapat menyebar dan menjadi mumps orchitis atau peradangan pada buah zakar. Kondisi ini ditandai dengan buah zakar sakit sebelah, merah, panas, dan nyeri.

“Itu harus segera dibawa ke dokter karena kalau dibiarkan, buah zakarnya nanti akan rusak atau terjadi atrofi, mengecil dan produksi sperma otomatis berkurang,” jelas Sunnu.

Kaitan COVID-19 dan Azoospermia  

Kaitan azoospermia dengan gondongan serupa dengan kaitannya dengan COVID-19.

“Jadi penelitian terbaru di Jepang, Timur Tengah diteliti orang-orang yang habis kena COVID itu, virusnya bisa menyebar ke buah zakar. Jadi bisa tanpa gejala, bisa ada gejalanya, nyeri di buah zakar,” ucapnya.

“Bahkan penelitian saya terakhir di UNAIR tahun 2024, pasien-pasien yang kena COVID, sudah sembuh , enam bulan kemudian cek sperma itu masih ada penurunan jumlah spermanya. Jadi ada efek jangka panjang.”

Efek jangka panjang COVID-19 atau Long COVID misa meninggalkan gejala sisa meski sudah lewat satu tahun. Termasuk gejala lemas, badan nyeri, susah tidur (insomnia), hormon turun, testosteron turun, tidak bisa ereksi, libido turun, kualitas sperma juga turun.

“Jadi memang efeknya tuh merusaknya luar biasa. Memang virusnya masuk dari saluran napas tapi bisa menyebar ke mana-mana termasuk ke buah zakar,” jelas Sunnu.

Vaksin COVID-19 dan Kemandulan

Di masa pandemi COVID-19, sempat ada isu bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan kemandulan. Terkait hal ini, Sunnu memiliki jawaban sendiri.

“Prinsip vaksinnya itu kan kita memang diinjeksi bagian dari virus, mungkin tangannya atau kakinya atau virus yang sudah dilemahkan. Ada beberapa pasien yang imunitasnya drop, dia malah jadi gampang kena COVID walaupun tubuhnya sudah punya perisai, udah punya imun ibaratnya.”

“Itu juga masih pro kontra, karena di Amerika sendiri itu terjadi tuntutan. Jadi pasien-pasien yang sudah vaksin COVID itu banyak yang terkena stroke.”

Menurut Sunnu, vaksin COVID-19 memang diteliti secara cepat. Vaksin sudah disebarluaskan sebelum menjalani penelitian yang benar-benar mantap.

“Belum tahu efek sampingnya dalam 5 atau 10 tahun kemudian. Jadi memang butuh penelitian, bagaimana dampak vaksin ini 5, 10, 20 tahun kemudian.”

Butuh Waktu 10-15 Tahun untuk Ketahui Efek Jangka Panjang Vaksin COVID-19

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis kebidanan dan kandungan RS Eka Hospital PIK, Hardi Susanto, memberi tambahan soal vaksin COVID-19.

“Saat pandemi di seluruh dunia, dunia tuh panik. Waktu itu juga orang belum tahu cara mengobatinya. Lalu orang berlomba-lomba untuk bikin vaksin,” kata Hardi.

“Seharusnya dalam dunia medis, obat termasuk vaksin itu baru bisa beredar dan dipergunakan secara luas oleh umum kalau dia sudah melalui tiga tingkat penelitian, step satu, step dua, step tiga, kalau sudah di step empat baru dia dinyatakan aman. Dan itu biasanya memakan waktu yang bertahun-tahun.”

Rata-rata, sambung Hardi, penelitian satu vaksin bisa memakan waktu antara 10 sampai 15 tahun. Sehingga, diketahui secara persis fungsi hingga efek samping jangka panjangnya.

Menurut Hardi, untuk mengetahui efek jangka panjang dari vaksin COVID-19, maka perlu menunggu 10 hingga 15 tahun ke depan.

“Yang akan mengalami efek jangka panjangnya adalah kita-kita yang sudah divaksinasi. Nanti kita lihat, ini kan baru tiga tahun, kita belum tahu 10 tahun lagi bagaimana,” ujarnya.

Read Entire Article