Di tepi sawah yang mulai mengering, seekor burung kecil tampak berjalan cepat. Sesekali ia berhenti, mematuk lumpur, lalu berlari pendek sebelum terbang rendah. Orang kampung menyebutnya ancul-ancul. Dunia ilmiah mengenalnya sebagai trinil, anggota genus Tringa. Tubuhnya tergolong sedang, tetapi perannya bagi ekosistem lahan basah sangat besar.
Trinil bukan burung asing di Indonesia. Ia hadir hampir sepanjang tahun, terutama saat musim migrasi. Sawah, rawa, sungai dangkal, hingga pantai berlumpur menjadi tempat persinggahannya. Namun keberadaan trinil sering luput dari perhatian, padahal ia adalah indikator penting kesehatan lingkungan perairan dangkal.
Genus Tringa termasuk dalam famili Scolopacidae, kelompok burung pantai yang dikenal sebagai pejalan ulung. Kakinya relatif panjang, tubuhnya ramping, dan paruhnya sensitif terhadap getaran mangsa. Adaptasi ini memungkinkan trinil mencari makan di lumpur tanpa harus menyelam. Mereka memakan serangga air, cacing, krustasea kecil, hingga ikan berukuran sangat kecil.
Penelitian-penelitian ekologi menunjukkan bahwa keberadaan trinil berkorelasi langsung dengan kualitas habitat lahan basah. Ketika trinil menghilang, biasanya ekosistem sedang tidak baik-baik saja.
Trinil dalam Perspektif Ilmiah dan Lokal
Dalam literatur ilmiah, trinil telah lama dikaji sebagai burung migran. Linnaeus mencatat genus Tringa sejak abad ke-18. Namun jauh sebelum itu, masyarakat lokal di Nusantara sudah mengenalnya melalui pengamatan sehari-hari. Nama ancul-ancul muncul dari kebiasaan ekornya yang naik turun saat berjalan.
Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah menegaskan bahwa trinil bukan sekadar burung singgah. Ia memiliki fungsi ekologis penting, terutama sebagai pengendali populasi invertebrata air dan bioindikator kualitas habitat. Penelitian tersebut juga mencatat kehadiran beberapa spesies trinil di lahan basah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Jawa.
Dari berbagai jenis Tringa yang tercatat, terdapat tiga spesies trinil yang paling sering dijumpai dan relevan dengan konteks lahan basah Indonesia, yaitu Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil Rawa (Tringa stagnatilis), dan Trinil Semak (Tringa glareola).
Trinil Pantai (Tringa hypoleucos): Si Gesit dari Tepi Air
Trinil pantai adalah jenis yang paling mudah dikenali dan paling sering dijumpai. Ukuran tubuhnya sedang, sekitar 22–24 sentimeter. Warna tubuhnya cokelat keabu-abuan dengan bagian bawah putih bersih. Saat terbang, terlihat jelas garis putih di sayap dan tunggirnya.
Sesuai namanya, trinil pantai sering ditemukan di tepi sungai, danau, pantai berlumpur, serta sawah tergenang. Dalam penelitian yang dimuat pada "Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah", Tringa hypoleucos tercatat memiliki nilai kelimpahan tertinggi dibanding jenis trinil lain. Hal ini menunjukkan daya adaptasinya yang tinggi terhadap berbagai tipe lahan basah.
Trinil pantai dikenal aktif dan gesit. Ia jarang diam terlalu lama. Pola makannya fleksibel, mulai dari serangga air, larva, hingga moluska kecil. Spesies ini juga termasuk migran jarak jauh. Ia berkembang biak di wilayah Eropa dan Asia Utara, lalu bermigrasi ke Asia Tenggara dan Afrika saat musim dingin.
Kemampuan adaptasi inilah yang membuat trinil pantai relatif lebih aman dibanding jenis trinil lainnya. Namun demikian, ketergantungannya pada habitat perairan dangkal tetap membuatnya rentan terhadap pencemaran air dan alih fungsi lahan.
Trinil Rawa (Tringa stagnatilis): Penghuni Setia Perairan Tenang
Berbeda dengan trinil pantai yang lincah dan agresif, trinil rawa memiliki karakter lebih tenang. Tubuhnya ramping dengan kaki relatif lebih panjang. Warna bulunya abu-abu pucat dengan bagian bawah putih. Sekilas ia tampak lebih “bersih” dibanding trinil pantai.
Trinil rawa cenderung memilih habitat perairan yang tenang, seperti rawa, kolam, dan danau dangkal. Penelitian dalam prosiding lahan basah mencatat bahwa Tringa stagnatilis memiliki preferensi habitat yang lebih spesifik. Ia jarang ditemukan di area yang terlalu terganggu aktivitas manusia.

1 day ago
3



















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393079/original/037107700_1761541197-Real_Madrid_s_Kylian_Mbappe__left__fights_for_the_ball_with_Barcelona_s_Ronald_Araujo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444452/original/057575400_1765779473-IMG-20251215-WA0021.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4648323/original/013706700_1699957319-Screenshot_2023-11-14_165748.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442079/original/028336100_1765526270-WhatsApp_Image_2025-12-07_at_14.28.16.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5404979/original/049985200_1762420817-IMG-20251106-WA0019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4771906/original/063595200_1710390647-red-peppers-plate-flat-lay-white-textile-wall.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442114/original/016339100_1765528069-hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5441214/original/042739400_1765459543-20251211_101707.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444958/original/042244800_1765793810-polo_air.jpg)





English (US) ·