Kritik Jimly Terkait Politikus DPR Dipilih Jadi Hakim MK, Sebut Ada Persepsi Salah dalam Rekrutmen

1 hour ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Profesor Jimmly Assiddiqie mengkritisi sistem rekrutmen para hakim konstitusi saat ini. Ia mengatakan, perlu bagi pemerintah, dan juga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengubah tata cara perundangan dalam memilih dan menunjuk para hakim untuk ditempatkan sebagai pengadil di MK.

Jimmly menyampaikan kritiknya itu menyusul para politisi dari DPR yang dipilih untuk menjadi hakim konstitusi. “Ini perlu ada evaluasi mekanisme rekrutmen hakim konstitusi di masa depan. Ini perlu ada pengaturan ulang,” ujar Jimmly saat ditemui dalam peluncuran buku 70 Tahun Yusril Ihza Mahendra di Balai Kartini, di Jakarta Selatan (Jaksel), Sabtu (7/2/2026).

Jimmly mengatakan, selama ini ada pergeseran yang berujung pada fatalisme persepsi tentang pemilihan hakim-hakim MK. Aturan rekrutmen hakim-hakim MK selama ini mengacu pada Pasal 18 Undang-undang (UU) MK 24/2003 tentang MK.

Dalam pasal tersebut, Jimmly menerangkan, rekrutmen hakim MK berasal dari tiga jalur kekuasaan, eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

“Tiga dipilih oleh DPR, tiga dipilih oleh presiden, tiga dipilih oleh Mahkamah Agung (MA),” kata Jimmly. 

Menurut Jimmly, klausul dalam beleid itulah yang selama ini berujung pada praktik prosedural yang keliru. “Itulah yang dipersepsikan seolah-olah tiga dipilih dari (DPR, Presiden, dan MA). Sehingga muncul pengertian, ini orang-orang kita (tiga calon hakim MK yang diusulkan oleh masing-masing kekuasaan), ini orang-orang yang mewakili kepentingan kita (eksekutif, legislatif, yudikatif),” kata Jimmly.

Persepsi yang keliru tersebut, memunculkan ego dari latar belakang penyokongan oleh hakim-hakim MK yang terpilih nantinya. Dan situasi tersebut yang juga berdampak pada tugas independensi hakim-hakim MK.

“Jadi kalau ada undang-undang yang dibatalkan sama dia (yang tidak sesuai dengan harapan dari kekuasaan yang mengusungnya ke MK), bisa dianggap kurang ajar (oleh kekuasaan pengusungnya),” kata Jimmly.

Kasus seperti itu, kata Jimmly pernah terjadi pada 2022 lalu. Saat itu, wakil ketua MK Aswanto dipecat oleh DPR lantaran sering membatalkan UU bikinan DPR yang diajukan sebagai objek judical review ke MK.

Aswanto, merupakan hakim konstitusi dari kalangan politikus dan berasal dari anggota DPR dan lolos ke MK sebagai keterwakilan DPR di MK. “Nah dari kasus yang seperti itu, saya sudah bilang, bahwa harus ada pengaturan ulang (rekrutmen hakim MK), supaya independensi dari kekuasaan MK ini tidak terganggu. Biar tidak begitu caranya, dan itu harus diatur kembali,” ujar Jimmly.

Jimmly, pun menawarkan pengaturan ulang rekrutmen di MK itu dengan memastikan adanya revisi UU MK untuk memasukkan klausul larangan anggota DPR, pun politikus kepartaian yang masih aktif di parlemen agar tidak dapat dicalonkan sebagai hakim di MK. “Anggota DPR itu seharusnya nggak boleh dipilih menjadi hakim MK,” kata Jimmly.

Ia menegaskan, anggota DPR dalam proses rekrutmen hakim-hakim MK merupakan panelis atas keterwakilan rakyat yang hanya memiliki kewenangan memilih hakim-hakim MK. “DPR itu tukang pilih, bukan dipilih (untuk jadi hakim MK). Nah kalau dia dipilih (jadi hakim MK), itu kan jeruk makan jeruk namanya,” ujar Jimmly.

Read Entire Article